Kepulauan Gili: Panduan Lengkap Trawangan, Meno & Air

Oleh Blaise Jaeger · Diperbarui pada 4 Agustus 2026

Kepulauan Gili, yang terletak di lepas pantai barat laut Lombok di Indonesia, adalah surga tropis yang termasyhur berkat keindahannya yang memukau, kekayaan biota lautnya, dan suasananya yang santai. Terdiri dari tiga pulau utama – Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air – pulau-pulau mungil yang indah ini menjadi tempat pelarian yang damai bagi para pelancong yang ingin lepas dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Pasir putih dan perairan dangkal berwarna toska di pantai timur Gili Trawangan, Kepulauan Gili, Indonesia
Gili Trawangan — pantai timur, sepuluh menit berjalan kaki ke utara dari pelabuhan

Salah satu daya tarik paling luar biasa dari Kepulauan Gili adalah pantainya yang masih asri, dengan pasir putih selembut bedak dan air sebening kristal yang sempurna untuk snorkeling dan menyelam. Dunia bawah lautnya memang bagaikan kaleidoskop terumbu karang berwarna-warni, penyu laut, dan aneka biota laut, yang menjadikannya magnet bagi para penggemar aktivitas air. Pulau-pulau ini secara sadar menerapkan praktik ramah lingkungan dan berkelanjutan, dengan larangan kendaraan bermotor, pelarangan plastik sekali pakai, dan dorongan pemanfaatan energi terbarukan.

Jalan utama Gili Trawangan yang berpasir, dipenuhi bar, toko selam, dan sepeda
Jalan utama Gili Trawangan — pasir, sepeda, dan cidomo, tanpa satu pun mesin

Semua upaya ini membantu menjaga keindahan alam yang membuat Kepulauan Gili begitu dicintai para pelancong yang peduli lingkungan. Baik Anda mencari petualangan maupun ketenangan, Kepulauan Gili menawarkan surga kecil yang sulit ditolak. Dengan lanskapnya yang menawan dan komitmennya pada keberlanjutan, kepulauan ini tetap menjadi destinasi utama bagi siapa pun yang mencari pengalaman kepulauan yang autentik di Indonesia.

Cidomo yang mengangkut koper menyusuri jalur pantai di Gili Trawangan
Kereta kuda — cidomo masih menjadi satu-satunya cara mengangkut barang berat di kepulauan ini

Kepulauan Gili Sekilas

Sebelum masuk ke detailnya, berikut semua yang Anda butuhkan untuk menempatkan Kepulauan Gili di peta dan di anggaran Anda. “Gili” sebenarnya berarti “pulau kecil” dalam bahasa Sasak, bahasa daerah Lombok — itulah sebabnya ada puluhan “Gili” lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Tiga yang paling terkenal berkumpul rapat sekitar 5 km dari pantai barat laut Lombok.

  • Lokasi: Provinsi Nusa Tenggara Barat, di lepas barat laut Lombok — secara administratif bagian dari Lombok, bukan Bali.
  • Tiga pulau: Gili Trawangan (yang terbesar, kelilingnya sekitar 7 km), Gili Meno (yang terkecil dan paling sepi), Gili Air (yang paling dekat dengan Lombok).
  • Cara ke sana: kapal cepat dari Padang Bai, Sanur, atau Serangan di Bali (2 sampai 3 jam), kapal cepat langsung dari Nusa Penida atau Nusa Lembongan, atau kapal umum dari Bangsal atau Teluk Nare di Lombok (20 sampai 30 menit).
  • Transportasi di pulau: tidak ada mobil, tidak ada motor. Hanya jalan kaki, sepeda, dan cidomo.
  • Waktu terbaik: April hingga Oktober (musim kemarau), dengan air paling jernih dari Juni sampai September.
  • Perkiraan anggaran harian 2026: Rp 400.000-650.000 gaya backpacker, Rp 950.000-1.600.000 untuk perjalanan nyaman, di atas Rp 3.200.000 untuk resor butik tepi pantai.
  • Fun dive: Rp 450.000-650.000 per penyelaman; kursus PADI Open Water Rp 6-8,5 juta.
  • Mata uang dan uang tunai: rupiah. Ada ATM di Trawangan dan Air, tidak ada satu pun di Meno — dan ATM-nya memang sering kehabisan uang saat musim ramai.
  • Bahasa: bahasa Sasak dan bahasa Indonesia; bahasa Inggris dipakai di mana-mana di sektor pariwisata.

Empat Perjalanan Saya ke Kepulauan Gili, dari 2017 sampai 2026

Saya tinggal di Bali sejak 2020 dan menyelam di Indonesia sepanjang tahun. Kepulauan Gili termasuk tempat yang selalu saya datangi lagi: saya sudah menginap di sana empat kali, di dua pulau berbeda, sebelum dan sesudah peristiwa yang mengubah segalanya di sini — gempa Lombok Agustus 2018.

Kunjungan pertama saya adalah pada Juli 2017, di Gili Air, menginap di Damai Bungalow. Gili Air waktu itu sudah menjadi titik tengah yang masuk akal: cukup banyak warung dan toko selam sehingga tidak pernah bosan, tetapi cukup tenang sampai-sampai suara paling keras di malam hari hanyalah genset dan deburan ombak. Saya kembali ke Gili Air pada Agustus 2022, di 7SEAS Cottages, empat tahun setelah gempa dan dua tahun setelah perbatasan dibuka kembali.

Dua perjalanan terbaru saya berlangsung di Gili Trawangan, pada Mei 2025 dan Januari 2026, keduanya di Hotel Vila Ombak — properti dengan atap alang-alang yang bisa Anda lihat fotonya di bagian bawah halaman ini. Trawangan sangat berbeda dari Air: lebih ramai, lebih riuh, fasilitasnya lebih lengkap, dan jauh lebih mudah kalau Anda ingin punya banyak pilihan restoran dan pusat selam.

Pada Mei 2025 saya menyelam bersama Blue Marlin Dive, pusat selam tertua di Trawangan, di Deep Turbo — situs dalam di sebelah utara pulau. Yang paling membekas di sana justru topografinya, bukan satu hewan tertentu: lembah-lembah pasir putih yang membentang di antara formasi karang yang menjulang seperti perbukitan bawah laut, sehingga Anda seolah menuruni sebuah lanskap, bukan sekadar turun ke terumbu yang datar. Ini benar-benar tidak biasa untuk kawasan Indonesia bagian ini. Arusnya bisa menguat dengan cepat, dan itulah sebabnya situs ini termasuk kategori lanjutan, bukan untuk penyelaman pertama.

Penyelam melayang dalam daya apung netral di samping kipas laut raksasa di situs selam Deep Turbo, lepas pantai Gili Trawangan
Saya di Deep Turbo pada Mei 2025 — melayang di atas dasar laut di samping gorgonia sebesar manusia

Selain empat kali menginap itu, saya sudah melewati ketiga pulau ini entah berapa kali dalam perjalanan menuju Lombok, keluar-masuk lewat Bangsal. Penyeberangan itulah yang tidak pernah diceritakan siapa pun: dari geladak kapal, Kepulauan Gili tampak kecil sekali — tiga cakram pasir datar dengan jajaran pohon kelapa di tepinya — dan Anda langsung paham mengapa tidak ada mobil di sana.

Gili Meno dilihat dari geladak kapal, deretan pohon kelapa yang rendah di atas pantai pasir putih dengan satu dermaga
Gili Meno dari kapal — pemandangan inilah yang menjelaskan mengapa tidak ada mobil di sini

Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada siapa pun yang mengenal pulau-pulau ini sebelum 2018: jumlah pengunjung anjlok drastis setelah gempa, dan penurunan itu masih terasa sampai hari ini. Kepulauan Gili tidak pernah kembali seramai 2017 — bangunannya sudah dibangun ulang, tetapi orang-orangnya tidak semuanya kembali. Tergantung tujuan Anda datang, itu bisa jadi kabar buruk atau justru kabar terbaik di halaman ini. Pulau-pulau ini sekarang lebih tenang dibandingkan sepuluh tahun terakhir.

Pulau Gili mana yang sebaiknya dikunjungi : Trawangan, Meno, atau Air?

Gili Trawangan, yang terbesar dari ketiganya, sering dijuluki “pulau pesta”. Pulau ini menawarkan kehidupan malam yang meriah, dengan bar dan restoran tepi pantai tempat Anda bisa menyaksikan matahari terbenam yang memikat. Sebaliknya, Gili Meno adalah yang paling tenang dan sempurna untuk pasangan bulan madu atau siapa pun yang mencari kedamaian. Terakhir, Gili Air menyeimbangkan keduanya, sehingga ideal untuk pasangan, keluarga, maupun pelancong solo.

Gili Trawangan — yang paling ramai

Keliling Trawangan sekitar 7 km, kira-kira dua jam berjalan kaki di jalur datar atau empat puluh menit bersepeda. Semuanya terkonsentrasi di pantai timur: pelabuhan, ATM, pasar malam, pusat-pusat selam, dan sebagian besar bar. Pantai barat adalah tempat menonton matahari terbenam di balik Gunung Agung, sementara bagian tengah pulau berupa jaringan gang berpasir, bukit-bukit kecil, dan sebuah bukit pandang sederhana di tengahnya yang layak didaki selama sepuluh menit. Pilih Trawangan kalau Anda ingin banyak pilihan — restoran, toko selam, teman ngobrol — dan kalau pesta pantai sampai pukul 2 dini hari di hari Rabu terdengar seperti kelebihan, bukan kekurangan.

Gili Meno — yang paling tenang

Meno adalah yang terkecil dan paling sedikit pembangunannya: ada danau garam di tengahnya, segelintir resor, nyaris tanpa kehidupan malam, dan sama sekali tidak ada ATM. Di sinilah taman patung bawah laut yang dikenal sebagai Nest berada, di kedalaman 4 sampai 5 meter, dan di sini pula penyu paling mudah ditemukan langsung dari tepi pantai. Pilih Meno kalau bayangan liburan Anda adalah buku, tempat tidur gantung, dan snorkel — dan bawalah uang tunai.

Gili Air — yang paling seimbang

Gili Air adalah pulau yang selalu saya datangi lagi. Ini yang paling dekat dengan Lombok, paling mudah dicapai dari Bangsal, dan punya perbandingan terbaik antara “hal yang bisa dilakukan” dan “jumlah orang yang melakukannya”. Pantai selatan dan timur menampung sebagian besar warung, pusat selam, dan bar pantai; bagian utara dan barat hampir kosong. Pulaunya cukup kecil untuk dikelilingi dalam sembilan puluh menit, tetapi cukup hidup sehingga Anda tidak pernah merasa terdampar. Keluarga, pasangan, dan pelancong solo umumnya mendarat di sini lalu tinggal lebih lama dari rencana.

Kursi santai bambu di bawah payung beratap alang-alang di tepi pantai Gili Air, menghadap ke arah Lombok
Gili Air — sebagian besar bar pantai membiarkan kursi santainya terbuka untuk siapa pun yang memesan minuman

Perlu dicatat bahwa lanskap pariwisata di Kepulauan Gili dipengaruhi oleh dua peristiwa besar: gempa bumi yang mengguncang Lombok pada Agustus 2018 dan krisis virus corona pada 2020.

Perahu kayu berlabuh di perairan dangkal berwarna toska di sepanjang pesisir Gili Trawangan
Gili Trawangan — perahu-perahu menunggu di lepas pantai timur, tempat setiap penyeberangan dimulai dan berakhir

Kepulauan Gili vs Nusa Penida: Mana yang Harus Anda Pilih?

Ini pertanyaan yang paling sering saya terima dari pelancong yang sedang merencanakan perjalanan pertamanya di Indonesia, dan pertanyaan ini pantas dijawab dengan lugas, bukan secara diplomatis. Keduanya adalah pulau di lepas pantai Bali, keduanya terkenal berkat perairannya, dan keduanya sama sekali bukan jenis liburan yang sama.

Nusa Penida adalah pulau besar yang bertebing terjal, 45 menit dengan kapal cepat dari Sanur, dengan tebing kapur dramatis, titik pandang seperti Kelingking dan Diamond Beach, motor dan mobil, jalan-jalan menanjak, serta penyelaman kelas dunia — pari manta di Manta Point sepanjang tahun, dan mola-mola (ikan matahari) antara Juli dan Oktober. Ini tempat yang Anda jelajahi, dengan kendaraan, dan dengan rencana.

Kepulauan Gili adalah tiga pulau karang datar berjarak 2 sampai 2,5 jam dengan kapal cepat dari Padang Bai, tanpa kendaraan sama sekali, dengan snorkeling tepi pantai yang santai, penyu hijau di padang lamun, dan budaya bar pantai yang tidak dimiliki Nusa Penida. Ini tempat yang Anda nikmati dengan berdiam diri.

  • Pilih Kepulauan Gili kalau Anda ingin benar-benar melepas penat, berjalan ke mana-mana tanpa alas kaki, snorkeling langsung dari pantai, dan menutup hari dengan Bintang dingin menghadap matahari terbenam.
  • Pilih Nusa Penida kalau Anda ingin lanskap luas dan titik pandang, penyelaman serius bersama manta dan mola-mola, dan Anda tidak keberatan mengendarai motor atau menyewa sopir.
  • Waktu tempuh dari Bali: Nusa Penida 45 menit dari Sanur; Kepulauan Gili 2 sampai 2,5 jam dari Padang Bai — belum termasuk perjalanan darat ke Padang Bai.
  • Menyelam: Nusa Penida unggul untuk pelagis besar dan drift dive; Kepulauan Gili unggul untuk penyelaman yang mudah, hangat, ramah pemula, dan perjumpaan dengan penyu.
  • Kehidupan malam: Gili Trawangan, tanpa saingan. Nusa Penida tidur lebih awal.
  • Bersama anak kecil: Kepulauan Gili — tidak adanya lalu lintas sama sekali benar-benar jadi argumen kuat.

Kalau Anda hanya punya seminggu di Bali, Nusa Penida adalah tambahan yang lebih mudah karena penyeberangannya singkat dan hasilnya langsung terasa. Kalau Anda punya dua minggu dan ingin benar-benar berganti ritme, kunjungi keduanya — Nusa Penida dulu untuk lanskapnya, Kepulauan Gili sesudahnya untuk memulihkan diri. Saya sudah menulis perbandingan lengkap berdampingan — Nusa Penida vs Kepulauan Gili: mana yang harus dipilih — yang membahas detail keduanya, ditambah panduan wisata Nusa Penida lengkap yang mencakup pantai, titik pandang, situs selam, dan hal-hal praktis.

Kepulauan Gili setelah Gempa Lombok 2018

Pada 5 Agustus 2018, gempa berkekuatan magnitudo 6,9 mengguncang Lombok bagian utara pada kedalaman sekitar 34 km. Itu bukan letusan gunung api — Gunung Rinjani tidak meletus — tetapi guncangannya memicu longsor di lereng gunung dan meluluhlantakkan bagian utara pulau. Gempa utama 5 Agustus saja menewaskan 436 orang, dan seluruh rangkaian gempa Agustus 2018 menyebabkan 563 kematian, lebih dari 1.350 luka-luka, dan lebih dari 400.000 orang mengungsi — sebagian besar dari mereka berada di Lombok sendiri, bukan di Kepulauan Gili.

Di kepulauan ini, dampaknya lebih berupa kepanikan dan persoalan logistik. Peringatan tsunami dikeluarkan lalu dicabut sekitar satu jam kemudian, tetapi di tiga pulau pasir yang datar tanpa dataran tinggi, satu jam itu terasa mencekam. Resor dan fasilitas mengalami kerusakan 50 sampai 70%. Sekitar 2.700 orang diangkut ke daratan utama pada hari-hari berikutnya dan lebih dari 4.000 orang akhirnya dievakuasi. Banyak hotel dan restoran hancur atau rusak parah, dan pengalaman traumatis evakuasi itu menekan jumlah pengunjung sepanjang 2018 dan 2019 — sebelum Covid menutup pintu lagi pada 2020.

Terumbu karangnya pun ikut terdampak. Survei oleh Gili Shark Conservation menemukan retakan atau longsoran di lima dari sepuluh situs selam yang disurvei — Sunset Point dan Han’s Reef retak, sementara Turtle City, Bounty Wreck, dan Meno Slope longsor. Tetapi temuan utamanya jauh lebih penting: biota laut yang menjadi alasan orang datang — penyu, hiu karang sirip putih, pari — masih sangat banyak di sana. Hari ini, hampir delapan tahun kemudian, kepulauan ini sudah sepenuhnya dibangun kembali dan beroperasi normal; Anda perlu ditunjukkan orang lain untuk bisa menyadari bekas kerusakannya.

Penumpang dan koper di dermaga pelabuhan Gili Trawangan dengan kapal cepat bersandar di sampingnya
Pelabuhan Gili Trawangan — datanglah lebih awal, kapal memuat penumpang dari pantai dan dermaga sekaligus

Fasilitas dan Infrastruktur di Kepulauan Gili

Pariwisata mulai muncul di Kepulauan Gili sekitar tiga dekade lalu, ketika pulau-pulau ini masih tidak berpenghuni. Ketiga pulau berkembang dari tempat pelarian yang sunyi dan terpencil menjadi destinasi wisata populer, dan infrastrukturnya menyesuaikan diri untuk melayani arus pengunjung ini. Akomodasi di Kepulauan Gili tumbuh pesat, menawarkan berbagai pilihan mulai dari hostel murah sampai resor mewah. Banyak pula penginapan ramah lingkungan yang bermunculan, menekankan keberlanjutan sejalan dengan upaya konservasi di kepulauan ini.

Atap alang-alang dan jalan setapak taman di Hotel Vila Ombak, Gili Trawangan
Hotel Vila Ombak, tempat saya menginap di Trawangan pada Mei 2025 dan sekali lagi pada Januari 2026

Pilihan tempat makan sangat berlimpah, dengan restoran yang menyajikan masakan Indonesia, seafood segar, dan hidangan internasional untuk beragam selera. Bar dan kafe tepi pantai menyediakan lokasi indah untuk menikmati matahari terbenam, yang memperkuat suasana santai kepulauan ini. Transportasi di dalam Kepulauan Gili terutama mengandalkan sepeda dan cidomo, karena kendaraan bermotor dilarang. Moda transportasi ramah lingkungan ini menambah pesona kepulauan sekaligus menegaskan komitmennya pada keberlanjutan. Kepulauan ini menawarkan aneka aktivitas air, termasuk snorkeling, menyelam, dan paddleboarding, dengan toko penyewaan dan sekolah selam yang mudah ditemukan.

Kuda menarik cidomo di sepanjang gang berpasir di antara pohon kelapa di Kepulauan Gili
Cidomo masih mengangkut segalanya di kepulauan ini — koper, air, bahan bangunan

Hal Terbaik yang Bisa Dilakukan di Kepulauan Gili

Tidak ada rute kuil di sini dan tidak ada gunung untuk didaki. Yang ditawarkan Kepulauan Gili adalah daftar pendek namun sangat berkualitas, yang semuanya melibatkan air, sepeda, atau matahari terbenam.

Snorkeling bersama penyu hijau

Kepulauan Gili memiliki salah satu populasi penyu hijau terpadat di Indonesia, dan tidak seperti kebanyakan tempat lain, Anda tidak perlu kapal. Turtle Point di pantai timur laut Trawangan dan padang lamun di lepas pantai Meno sama-sama menjanjikan, terutama sebelum pukul 09.00 ketika airnya sehalus kaca dan penyu sedang makan. Trip snorkeling island hopping selama tiga jam berbiaya Rp 150.000-250.000 per orang, sewa perlengkapan Rp 50.000-75.000 per hari.

Penyu hijau berenang di air biru dengan ikan remora menempel di bawah cangkangnya, Kepulauan Gili
Penyu hijau di sini sering berenang ditemani remora yang menempel di bawah tubuhnya

Bersepeda mengelilingi pulau Anda

Sepeda disewakan Rp 50.000-75.000 per hari dan itu adalah pengeluaran terbaik yang akan Anda lakukan. Mengelilingi Trawangan butuh sekitar empat puluh menit, Air sekitar tiga puluh menit, Meno dua puluh menit. Tapi hati-hati: di ketiga pulau, jalurnya berubah menjadi pasir tebal dan lembut di sisi seberang, dan Anda akan berakhir mendorong sepeda. Itu bagian dari ritualnya.

Melihat patung bawah laut di Nest

Di lepas pantai barat Gili Meno, lingkaran berisi 48 sosok manusia seukuran aslinya berdiri di kedalaman 4 sampai 5 meter. Dipasang sebagai terumbu buatan, patung-patung itu kini ditumbuhi karang dan spons, dan cukup dangkal untuk dicapai dengan free dive tanpa kesulitan. Datanglah saat air tenang dan pada pagi yang cerah — jarak pandang menentukan berhasil atau gagalnya foto Anda.

Menyaksikan matahari terbenam di balik Gunung Agung

Pada sore yang cerah, pantai barat ketiga pulau menghadap langsung ke Bali, dengan kerucut Gunung Agung di cakrawala. Sunset Point di Trawangan adalah lokasi klasiknya — datanglah sebelum pukul 17.30 pada musim ramai kalau Anda ingin dapat kursi santai. Ayunan pantai yang terkenal itu berada beberapa ratus meter lebih ke selatan, dan paling ramai justru tepat ketika cahayanya paling bagus.

Matahari terbenam di atas laut dilihat dari bar pantai di Gili Air, dengan bean bag di atas pasir dan siluet Gili Meno di cakrawala
Matahari terbenam dari Gili Air — bean bag mulai penuh sekitar pukul 17.30, dan tidak ada yang beranjak sampai gelap

Makan di pasar malam

Pasar malam Trawangan, di belakang pelabuhan, adalah tempat Anda bisa makan enak dengan Rp 25.000-50.000: ikan bakar per kilo, sate, nasi campur, jagung bakar. Gili Air punya versi yang lebih kecil di dekat persimpangan utama. Ini juga santapan termurah yang bisa Anda temukan di kepulauan yang makan malam di restorannya berkisar Rp 80.000-150.000. Untuk tahu lebih banyak soal apa yang sebaiknya dipesan, lihat panduan kami tentang makanan Indonesia.

Menyelam dan snorkeling

Mari jujur dulu soal terumbunya: kondisinya sudah babak belur. Penangkapan ikan dengan bom menimbulkan kerusakan awal, tekanan pariwisata menambahnya, dan gempa 2018 meretakkan atau mengubur beberapa situs. Karang di sini lebih tambal sulam daripada yang digambarkan brosur, dan proyek restorasi seperti struktur Biorock di lepas pantai Meno ada justru karena alasan itu. Yang tidak hilang adalah biota lautnya. Airnya konsisten jernih, taman karangnya masih penuh ikan warna-warni, penyu, dan hiu karang, dan situs selamnya cocok untuk semua level, dari penyelaman open water pertama sampai drift dive dalam. “Turtle Heaven” dan “Shark Point” tetap menjadi dua tempat yang perjumpaannya nyaris pasti.

Penyelam menuruni gundukan karang di perairan jernih Kepulauan Gili
Semua situs selam Gili berjarak 5 sampai 10 menit dari pelabuhan dengan kapal

Situs selam yang layak menghabiskan tabung Anda

Semuanya berdekatan di sini: perjalanan kapal ke situs mana pun hanya 5 sampai 10 menit, sebuah kemewahan setelah menyelam di tempat seperti Maratua. Di sekitar Gili Trawangan, Shark Point dan Halik adalah situs andalan untuk hiu karang sirip putih, Sunset Point dan Ship Wreck berada di sisi barat, dan Deep Turbo adalah yang paling dalam — gundukan karang yang tersebar di atas pasir pada kedalaman 28-30 m, dengan hiu tutul dan pari elang kalau sedang beruntung, serta arus yang bisa mengubah penyelaman santai menjadi drift dive tanpa peringatan. Tetangganya yang lebih dangkal, Shallow Turbo, punya medan serupa dengan setengah kedalaman. Di sekitar Gili Meno, Meno Wall dan Meno Slope memiliki tutupan karang terbaik, Bounty Wreck adalah ponton tenggelam yang penuh ikan kelelawar dan sweetlips, dan struktur Biorock adalah proyek restorasi karang yang bisa Anda selami. Turtle Heaven dan Mirko’s Reef berada di selat antara Meno dan Air. Di lepas pantai Gili Air, Air Wall, Air Slope, dan Frogfish Point adalah situs makro — frogfish, ghost pipefish, nudibranch — dan Han’s Reef adalah situs yang selalu membuat semua orang kembali.

Peta situs selam Kepulauan Gili yang dilukis tangan, menampilkan Shark Point, Halik, Deep Turbo, Meno Wall, Bounty Wreck, Turtle Heaven, dan Air Wall di sekitar Trawangan, Meno, dan Air
Papan situs selam di Gili Trawangan — 18 situs bernama di sekitar ketiga pulau, tidak ada yang lebih dari sepuluh menit jauhnya
Gundukan karang yang dipenuhi kipas laut gorgonia merah menjulang dari dasar berpasir di Deep Turbo, Gili Trawangan
Deep Turbo — gundukan karangnya menjulang dari pasir seperti bukit-bukit kecil, lebat oleh gorgonia merah

Berapa biaya menyelam di Kepulauan Gili

Harga secara umum sudah diseragamkan antarpusat selam, sehingga tidak ada godaan untuk memilih semata-mata berdasarkan harga. Perkirakan Rp 450.000-650.000 untuk satu kali fun dive, dan Rp 6.000.000-8.500.000 untuk kursus PADI Open Water. Biaya taman laut sekitar Rp 100.000 dan donasi kecil untuk dana lingkungan biasanya ditambahkan sekali saja. Saya menyelam bersama Blue Marlin Dive, pusat selam tertua di Trawangan, dan saya akan kembali ke sana — tetapi ada belasan operator serius di ketiga pulau. Kalau Anda sedang menyusun perjalanan selam yang lebih besar, bandingkan dengan panduan penyelaman terbaik di Indonesia kami atau dengan pelayaran liveaboard.

Penyelam dan perlengkapan selam di atas kapal Blue Marlin yang berlabuh di lepas pantai Gili Trawangan
Briefing di atas kapal Blue Marlin — setiap situs selam Gili hanya berjarak 5 sampai 10 menit

Bagi penggemar snorkeling, Kepulauan Gili menyuguhkan dunia yang tak kalah memikat. Terumbu dangkalnya mudah dijangkau dari tepi pantai, sehingga siapa pun bisa dengan praktis memakai masker dan snorkel untuk menemukan keindahan di bawah permukaan. Baik Anda melangkah santai dari pantai maupun beranjak lebih jauh ke lepas pantai, Anda akan disambut formasi karang yang memesona, penyu laut yang jenaka, dan gerombolan ikan dengan warna-warni bagai kaleidoskop.

Satu peringatan: arus di antara pulau-pulau

Selat yang memisahkan Trawangan, Meno, dan Air terlihat seperti jarak renang yang pendek. Kenyataannya tidak. Saat air pasang naik atau surut, arus yang mengalir melalui selat itu cukup kuat untuk menyeret perenang berpengalaman sekalipun sampai jauh melewati pulau. Jangan pernah berenang antarpulau Gili — menyeberanglah dengan kapal, dan kalau Anda snorkeling dari pantai, periksa dulu arah pergerakan air sebelum masuk.

Air toska yang dangkal dan hamparan pasir putih yang lengang di pantai Gili Air
Pantai Gili Air — perairan dangkal di sini tetap bisa dipakai berenang pada hampir semua kondisi pasang surut

Pantai-Pantai di Kepulauan Gili

Pantai-pantai di Kepulauan Gili memang tak terbantahkan indahnya dan menyuguhkan pantai berpasir yang sempurna bagai gambar di sebuah pulau terpencil. Matahari terbenamnya sama memukau, dan banyak bar menghadirkan suasana yang pas dengan alunan musik lounge yang menenangkan. Dengan pasir putihnya yang lembut selembut bedak, air toska sebening kristal, dan pohon kelapa yang melambai, pantai-pantai Kepulauan Gili menawarkan latar sesempurna kartu pos untuk bersantai maupun berpetualang.

Ada dua catatan praktis yang perlu Anda tahu sebelum membayangkan diri berjalan menyusuri air. Pertama, sebagian besar garis pantainya dikelilingi pecahan karang dangkal, bukan pasir bersih di bawah kaki — sepatu karang benar-benar berguna, terutama di pantai barat Trawangan dan di sekitar Han’s Reef di Air. Kedua, pasang surut sangat menentukan: saat surut, beberapa bagian menjadi terlalu dangkal untuk berenang. Pantai timur Gili Air dan bagian timur laut Trawangan punya perairan paling layak renang di seluruh rentang pasang surut; pantai barat lebih cocok untuk matahari terbenam ketimbang berenang.

Bar pantai dan garis pantai berpasir putih yang dinaungi pohon kelapa di Kepulauan Gili
Bar pantai berjajar di bagian-bagian tersibuk — berjalanlah sepuluh menit lebih jauh untuk mendapat pantai yang kosong
Matahari terbenam di atas laut dilihat dari pantai barat Kepulauan Gili dengan Bali di cakrawala
Matahari terbenam dari pantai barat — pada sore yang cerah, Gunung Agung tampak di cakrawala

Tempat Menginap di Kepulauan Gili

Akomodasi di Kepulauan Gili berkisar dari ranjang dorm Rp 80.000 sampai vila pribadi Rp 15 juta, dan pilihan pulaunya lebih menentukan daripada kategorinya. Satu aturan berlaku di mana-mana: di Trawangan, periksa seberapa jauh kamar Anda dari deretan bar sebelum memesan. Pulaunya kecil, dan suara merambat jauh di atas pasir.

Gili Trawangan

Perkirakan Rp 100.000-200.000 untuk dorm, Rp 250.000-500.000 untuk guesthouse murah, Rp 600.000-1.500.000 untuk kelas menengah, dan Rp 1.500.000-4.000.000 untuk butik tepi pantai. Hotel Vila Ombak adalah tempat saya menginap dua kali: resor besar yang sudah mapan di pantai tenggara, bisa dicapai dengan berjalan kaki dari pelabuhan tetapi cukup jauh dari kawasan pesta. Pondok Santi Estate dan Ponte Villas berada di kelas atas, Pearl of Trawangan dan Gili Eco Villas di kelas menengah yang nyaman, serta Gili Pirates atau Jati Village di kelas backpacker. Bandingkan ketersediaan dan harga di Gili Trawangan.

Gili Air

Gili Air sedikit lebih murah dibanding Trawangan di semua kategori: Rp 80.000-180.000 untuk dorm, Rp 200.000-450.000 untuk bungalow, Rp 500.000-1.200.000 untuk kelas menengah. Saya menginap di Damai Bungalow pada 2017 dan di 7SEAS Cottages pada 2022, keduanya sederhana, keduanya hanya beberapa langkah dari air — dan itulah persis yang Anda inginkan di pulau ini. Cek 7SEAS Cottages di Booking, atau telusuri semua penginapan di Gili Air.

Bungalow taman dan atap alang-alang di 7SEAS Cottages, Gili Air
7SEAS Cottages di Gili Air, tempat saya menginap pada Agustus 2022

Gili Meno

Meno praktis tidak punya dorm dan lebih condong ke pasangan: Rp 250.000-500.000 untuk guesthouse, Rp 600.000-1.500.000 untuk bungalow, dan sejumlah kecil vila mewah mulai dari Rp 4.500.000 ke atas. Pesanlah jauh lebih awal dibanding di dua pulau lainnya — jumlah kamarnya memang lebih sedikit, dan tidak ada ATM yang bisa menyelamatkan Anda. Lihat tempat menginap di Gili Meno.

Pesan hotel Anda di Kepulauan Gili melalui Booking.com

Koneksi kapal dari Bali

Ada beberapa layanan kapal cepat yang beroperasi antara Padang Bai di Bali dan Kepulauan Gili, sehingga aksesnya praktis. Perjalanannya biasanya menyuguhkan pemandangan laut yang indah, dan kapal-kapalnya dilengkapi fasilitas modern sehingga pelayarannya nyaman selama laut tidak terlalu berombak. Sebagian besar kapal cepat melanjutkan ke Lombok setelah singgah di Kepulauan Gili.

Kapal cepat Eka Jaya bersandar di dermaga sebelum penyeberangan menuju Kepulauan Gili
Kapal cepat Eka Jaya — empat mesin, panjang 23 meter, kapasitas sampai 210 penumpang

Mencapai Kepulauan Gili bisa memakan banyak waktu kalau Anda memilih tiket all-inclusive dari hotel Anda di Bali. Sebagai gantinya, saya menyarankan Anda pergi sendiri ke Padang Bai dan naik kapal cepat langsung ke Kepulauan Gili. Perjalanannya biasanya memakan 2,5 jam, asalkan kondisi laut bersahabat. Salah satu pilihan terbaik adalah Eka Jaya, yang melayani rute harian antara Nusa Penida, Bali, Kepulauan Gili, dan Lombok. Eka Jaya memakai kapal cepat yang lapang dan nyaman dengan empat mesin bertenaga besar sehingga Anda bisa bepergian dengan cepat dan nyaman. Kapalnya sepanjang 23 meter dan mampu menampung sampai 210 penumpang.

Dari Padang Bai, Sanur, Serangan — atau langsung dari Nusa Penida

Ada tiga pelabuhan di Bali yang melayani Kepulauan Gili: Padang Bai di kabupaten Karangasem di Bali timur, serta Sanur dan Serangan di selatan. Padang Bai adalah titik awal sebagian besar penyeberangan — sekitar dua puluh keberangkatan terjadwal per hari, sebagian besar terkumpul antara pukul 08.30 dan 10.30, diiklankan 1,5 sampai 2 jam tetapi dalam praktiknya lebih dekat ke 2 sampai 2,5 jam. Sanur dan Serangan membebaskan Anda dari perjalanan darat ke timur tetapi menambah waktu di laut: hitung 2,5 sampai 3 jam. Tarif sekali jalan berkisar Rp 350.000-600.000 tergantung operator dan pelabuhannya. Perjalanan ke Padang Bai dari Seminyak atau Canggu memakan 2 sampai 2,5 jam dengan mobil, jadi keberangkatan pagi berarti Anda harus bangun sangat dini; lihat panduan kami tentang transportasi di Bali untuk perkiraan waktu tempuh yang realistis.

Penumpang berjalan di bawah gerbang Pelabuhan Serangan di Bali selatan
Pelabuhan Serangan di Bali selatan — pilihan yang membebaskan Anda dari perjalanan darat ke timur menuju Padang Bai

Ada pula pilihan keempat yang terlewat di sebagian besar rencana perjalanan: beberapa operator menjalankan kapal cepat langsung antara Nusa Penida dan Kepulauan Gili, tanpa harus kembali lewat Bali — dan begitu pula sebaliknya, termasuk dari Nusa Lembongan. Kalau Anda sudah berada di Nusa Penida, ini menghemat satu hari penuh untuk transfer, dan membuat kombinasi Nusa Penida + Kepulauan Gili jauh lebih masuk akal daripada yang terlihat di peta. Saya sudah merangkum operator, jadwal, dan tarif 2026 dalam panduan khusus: Nusa Penida ke Kepulauan Gili dengan kapal cepat. Kalau Anda masih memilih antara kedua destinasi ini alih-alih menggabungkannya, mulailah dari perbandingan Nusa Penida vs Kepulauan Gili.

Feri sedang memuat penumpang di pelabuhan Padang Bai, Bali timur, untuk penyeberangan ke Lombok dan Kepulauan Gili
Padang Bai — titik keberangkatan untuk feri lambat ke Lombok sekaligus kapal cepat ke Kepulauan Gili

Dari Bangsal atau Teluk Nare di Lombok — jalur termurah

Kalau Anda sudah berada di Lombok, lupakan kapal cepat. Pelabuhan Bangsal, di utara Senggigi, mengoperasikan kapal umum ke ketiga pulau dengan tarif Rp 19.500 sampai 22.500 sekali jalan — penyeberangan sekitar 20 sampai 30 menit. Masalahnya, kapal baru berangkat kalau sudah penuh (minimal 40 penumpang), jadi usahakan sudah berada di loket antara pukul 09.30 dan 10.30, ketika arus penumpang paling padat. Loketnya buka pukul 08.00-17.00, penjualan tiket ditutup pukul 16.30. Kalau Anda terburu-buru atau datang berombongan, carter kapal berbiaya Rp 360.000 sampai 500.000 sekali jalan untuk maksimal dua puluh orang. Teluk Nare, beberapa kilometer lebih ke utara, adalah titik keberangkatan lain yang umumnya dipakai kapal cepat dan antar-jemput hotel. Bangsal adalah jalur yang paling sering saya pakai, dan sejauh ini merupakan cara paling bebas stres untuk mencapai Kepulauan Gili.

Berpindah antara ketiga pulau

Kapal umum island hopping menghubungkan Trawangan, Meno, dan Air dua kali sehari, biasanya sekitar pukul 09.30 dan 16.00, dengan tarif Rp 35.000-75.000 tergantung rutenya. Carter pribadi antara dua pulau berbiaya sekitar Rp 200.000. Jangan menyusun jadwal yang ketat di sekitar kapal umum ini: layanannya lambat, informal, dan tidak akan menunggu.

Kabin ber-AC dengan tempat duduk bernomor di dalam kapal cepat Blue Water menuju Kepulauan Gili
Di dalam kapal cepat Blue Water — pendingin udara dan kursi bernomor membuat penyeberangan berombak jadi lebih tertahankan

Saran saya, pesanlah transportasi Anda secara daring lewat 12go. Tarif mereka sangat bagus dengan perusahaan-perusahaan terbaik, dan pemesanannya sangat mudah.

Powered by 12Go system

Terbang ke Lombok

Pilihan lainnya adalah terbang ke Lombok dan mampir ke Kuta Lombok sebelum menuju Kepulauan Gili. Perlu diingat bahwa pilihan ini lebih mahal, dan bandaranya toh cukup jauh dari Kuta maupun Bangsal. Bandara Internasional Lombok terletak jauh di selatan pulau: siapkan sekitar dua jam perjalanan mobil untuk mencapai Bangsal, dan tambahkan itu ke waktu penerbangan Anda sebelum menyimpulkan bahwa ini rute yang lebih cepat. Detail lengkapnya ada di panduan kami tentang cara menuju Lombok, dan lihat transportasi di Indonesia untuk gambaran yang lebih luas.

Pohon kelapa yang condong ke arah garis pantai berpasir putih Gili Air dengan Lombok di latar belakang
Gili Air — yang paling dekat dengan Lombok di antara ketiganya, dua puluh menit dari Bangsal

Waktu Terbaik Mengunjungi Kepulauan Gili

Musim kemarau berlangsung dari April sampai Oktober, dengan suhu antara 22 dan 34 °C serta jarak pandang bawah laut terbaik dari Juni sampai September. Itu juga saat kepulauan ini paling penuh: Juli dan Agustus, ditambah periode Natal dan Tahun Baru, adalah musim puncak, dengan tarif kamar lebih tinggi dan kapal yang tiketnya habis beberapa hari sebelumnya.

Periode favorit saya adalah September sampai awal November — lautnya masih tenang, harga sudah turun, dan keramaiannya sudah menipis. Perlu diketahui bahwa Oktober sampai Desember pada tahun-tahun tertentu mendatangkan ubur-ubur kecil yang menyengat; rash vest cukup untuk mengatasinya. Musim hujan, November sampai April, berarti hujan deras singkat ketimbang hujan seharian, tetapi juga berarti penyeberangan yang lebih berombak: kapal cepat jauh lebih sering dibatalkan, dan perjalanan 2 jam dari Padang Bai berhenti menjadi menyenangkan saat gelombang tinggi. Kalau Anda bepergian pada Januari atau Februari, sisakan satu hari cadangan dalam jadwal Anda.

Feri cepat aluminium Semaya One bersandar di dermaga sebelum penyeberangan menuju Kepulauan Gili
Feri cepat berlambung aluminium lebih tahan gelombang dibanding kapal fiberglass lama — patut dicek jenis lambung apa yang Anda pesan saat musim hujan

Tips Praktis untuk Kepulauan Gili

Uang dan ATM

Bawalah uang tunai. Trawangan punya beberapa ATM di dekat pelabuhan dan Gili Air punya dua-tiga unit; Gili Meno sama sekali tidak punya. Semuanya kehabisan uang saat musim ramai, dan penerimaan kartu di luar hotel besar dan pusat selam masih tidak merata. Tariklah uang di Lombok atau Bali sebelum menyeberang, dan bawalah pecahan kecil — tidak ada orang di pantai yang punya kembalian untuk uang seratus ribu.

Berkeliling, dan soal cidomo

Tidak ada kendaraan bermotor: Anda berjalan kaki, bersepeda (Rp 50.000-75.000 per hari), atau naik cidomo (Rp 50.000-200.000 tergantung jarak dan pulaunya). Ada baiknya jujur soal cidomo: kesejahteraan kuda di kepulauan ini adalah persoalan nyata yang sudah lama berlangsung, dan beberapa kampanye yang ditujukan kepada pengunjung telah mendorong perbaikan kondisinya. Kalau Anda sanggup membawa tas sendiri, berjalanlah kaki. Kalau Anda memang naik cidomo, tolaklah kereta yang tampak kelebihan muatan atau kuda yang kondisinya buruk.

Air, plastik, dan listrik

Air keran tidak layak minum, dan sebagian besar air untuk mandi bersifat payau — bersiaplah merasakan sedikit asin dan efeknya kurang bersahabat bagi rambut panjang. Plastik sekali pakai dilarang; stasiun isi ulang tersedia di mana-mana, jadi bawalah botol sendiri. Listrik dipasok lewat kabel bawah laut dari Lombok dan pemadaman memang terjadi, umumnya sebentar. Sinyal ponsel bagus di Trawangan dan Air, lebih lemah di Meno, dan wifi hotel bervariasi dari lumayan sampai sekadar pajangan.

Keamanan

Kepulauan Gili aman, termasuk untuk pelancong perempuan yang bepergian sendiri, dan ketiadaan lalu lintas membuat berjalan kaki setelah gelap lebih nyaman dibanding hampir semua tempat lain di Indonesia. Dua risiko yang benar-benar nyata ada di air — arus selat yang dijelaskan di atas — dan pada apa yang Anda minum: hindari minuman keras tanpa merek dan waspadai koktail yang sangat murah, aturan yang berlaku di seluruh Indonesia. Ada pos polisi kecil di Trawangan, tetapi jangan mengandalkan respons yang cepat; ambillah tindakan pencegahan biasa terhadap barang berharga di bungalow tepi pantai.

Baca Juga

Teluk melengkung dan pasir pucat di pantai Tanjung Aan dekat Kuta Lombok

Panduan Wisata Lombok

Pulau induk Kepulauan Gili: pantai-pantai selancar Kuta Lombok, Gunung Rinjani, desa-desa Sasak, dan air terjun di bagian utara.

Baca selengkapnya

Hiu paus berenang tepat di bawah permukaan air di Teluk Saleh, Sumbawa

Panduan Wisata Sumbawa

Pulau berikutnya di sebelah timur, yang sebagian besar masih belum terjamah: ombak kelas dunia di Lakey Peak, pantai-pantai kosong, dan hiu paus di Teluk Saleh.

Baca selengkapnya

Pemandangan udara Broken Beach dan lengkung karang alaminya di pesisir Nusa Penida

Panduan Wisata Nusa Penida

Temukan tempat menginap di Nusa Penida, pantai-pantai terindah di pulau ini, titik pandang terbaik, snorkeling bersama pari manta, tips praktis perjalanan, dan itinerari terperinci untuk merencanakan perjalanan yang sempurna.

Baca selengkapnya

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Kepulauan Gili

Di mana letak Kepulauan Gili di Indonesia?

Kepulauan Gili terletak sekitar 5 km dari pantai barat laut Lombok, di Provinsi Nusa Tenggara Barat, kira-kira 35 km di sebelah timur Bali. Secara administratif kepulauan ini termasuk Lombok, bukan Bali, meskipun sebagian besar pengunjung datang dari Bali dengan kapal cepat.

Pulau Gili mana yang sebaiknya saya pilih?

Gili Trawangan untuk kehidupan malam, pilihan restoran, dan pusat selam; Gili Meno untuk ketenangan mutlak dan snorkeling penyu terbaik; Gili Air untuk keseimbangan antara keduanya. Pengunjung yang baru pertama kali datang dan masih ragu sebaiknya memilih Gili Air.

Bagaimana cara ke Kepulauan Gili dari Bali?

Dengan kapal cepat dari Padang Bai, Sanur, atau Serangan. Padang Bai punya keberangkatan terbanyak — sekitar dua puluh per hari, sebagian besar antara pukul 08.30 dan 10.30 — dan penyeberangan tersingkat, 2 sampai 2,5 jam; Sanur dan Serangan memakan 2,5 sampai 3 jam tetapi menghemat perjalanan darat ke timur. Tarifnya berkisar Rp 350.000-600.000 sekali jalan. Ada juga kapal cepat langsung dari Nusa Penida kalau Anda sudah berada di sana, jadi Anda tidak perlu memutar balik lewat Bali.

Berapa lama perjalanan kapal dari Bali ke Kepulauan Gili?

Operator mengiklankan 1,5 sampai 2 jam dari Padang Bai; dalam praktiknya hitung 2 sampai 2,5 jam, dan 2,5 sampai 3 jam dari Sanur atau Serangan. Dari Bangsal atau Teluk Nare di Lombok, penyeberangannya hanya 20 sampai 30 menit. Penyeberangan lebih berombak dan lebih sering dibatalkan pada musim hujan, dari November sampai April.

Apakah Kepulauan Gili bagian dari Lombok atau Bali?

Kepulauan ini bagian dari Lombok, di Nusa Tenggara Barat. “Gili” berarti “pulau kecil” dalam bahasa Sasak, bahasa daerah Lombok, itulah sebabnya puluhan pulau lain di seluruh Indonesia juga dinamai Gili sesuatu.

Kepulauan Gili atau Nusa Penida — mana yang lebih baik?

Keduanya cocok untuk jenis perjalanan yang berbeda. Nusa Penida lebih dekat ke Bali (45 menit dari Sanur), lebih besar, dan dibangun di sekitar titik pandang tebing serta penyelaman kelas dunia bersama pari manta dan mola-mola. Kepulauan Gili datar, bebas kendaraan, dan berpusat pada kehidupan pantai, snorkeling tepi pantai yang mudah, serta penyu. Kalau Anda punya dua minggu, kunjungi keduanya — ada kapal langsung di antara keduanya. Uraian lengkapnya ada di perbandingan Nusa Penida vs Kepulauan Gili kami.

Bisakah berenang bersama penyu di Kepulauan Gili?

Bisa, dan Anda jarang membutuhkan kapal. Penyu hijau mencari makan di padang lamun di lepas pantai Gili Meno dan di Turtle Point di pantai timur laut Gili Trawangan, di perairan yang cukup dangkal untuk di-snorkeli langsung dari pantai. Pergilah sebelum pukul 09.00 untuk mendapat air paling tenang dan penyu yang paling aktif.

Apakah ada mobil di Kepulauan Gili?

Tidak ada. Kendaraan bermotor dilarang di ketiga pulau. Anda berkeliling dengan berjalan kaki, bersepeda, atau naik cidomo, dan segalanya mulai dari koper sampai bahan bangunan diangkut dengan cara yang sama.

Apakah aman mengunjungi Kepulauan Gili setelah gempa 2018?

Aman. Kepulauan ini sudah sepenuhnya dibangun kembali pada tahun-tahun setelah gempa Lombok Agustus 2018 dan beroperasi normal sejak saat itu. Terumbunya memang mengalami retakan dan longsoran di beberapa situs selam, tetapi penyu, hiu karang, dan pari tetap melimpah.

Berapa hari yang dibutuhkan di Kepulauan Gili?

Tiga malam di satu pulau adalah minimum yang sepadan dengan penyeberangannya. Lima sampai tujuh malam memungkinkan Anda membagi waktu antara dua pulau dan menyelam atau snorkeling dengan puas tanpa menghabiskan liburan di atas kapal.

Kapan waktu terbaik dalam setahun untuk mengunjungi Kepulauan Gili?

April sampai Oktober, dengan air paling jernih dari Juni sampai September. September sampai awal November adalah periode paling ideal: laut tenang, harga lebih rendah, dan pengunjung lebih sedikit. Juli, Agustus, dan periode Tahun Baru adalah yang paling ramai dan paling mahal.

Apakah ada ATM di Kepulauan Gili?

Ada ATM di Gili Trawangan dan Gili Air, tetapi tidak ada di Gili Meno, dan ATM-nya rutin kehabisan uang tunai saat musim ramai. Tariklah uang sesuai kebutuhan di Bali atau Lombok sebelum menyeberang dan bawalah pecahan kecil.

Berapa biaya satu fun dive di Kepulauan Gili?

Sekitar Rp 450.000-650.000 per penyelaman, dengan harga yang secara umum seragam antarpusat selam, ditambah biaya taman laut sekali bayar sekitar Rp 100.000. Kursus PADI Open Water berkisar Rp 6.000.000-8.500.000.

Tentang penulis — Blaise Jaeger

Blaise Jaeger tinggal di Bali sejak 2020 dan menyelam di Indonesia sepanjang tahun. Ia sudah menginap di Kepulauan Gili empat kali antara 2017 dan 2026 — dua kali di Gili Air, dua kali di Gili Trawangan — dan sudah menyeberang ke Lombok lewat Bangsal entah berapa kali. Ia juga mengelola panduan wisata Nusa Penida, dan itulah sebabnya perbandingan antara kedua destinasi di halaman ini berasal dari pengalaman langsung, bukan sekadar teori.