Wisatawan asal Prancis yang berbasis di Bali sejak tahun 2020, berlatar belakang teknik dirgantara dan mantan eksekutif di sektor dirgantara serta bisnis internasional, saya telah mengunjungi lebih dari 60 negara di lima benua selama karier internasional yang berlangsung lebih dari 30 tahun. Memiliki passion besar terhadap scuba diving, dengan lebih dari 700 penyelaman dan sertifikasi PADI Master Scuba Diver, kini saya membagikan panduan perjalanan yang detail, jujur, dan berdasarkan pengalaman nyata di My Best Places to Visit.
Nama saya Blaise Jaeger. Saya lahir di Paris, tempat saya menghabiskan sebagian besar hidup saya sebelum kemudian tinggal di Toulouse, Cannes, dan Lisbon. Sekitar sepuluh tahun lalu, saya juga membangun sebuah rumah di Corfu, Yunani, negara yang masih sering saya kunjungi dan saya pelajari jauh melampaui destinasi wisata klasiknya.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar perjalanan saya berkaitan langsung dengan pekerjaan di bidang dirgantara dan bisnis internasional. Baru setelah pindah ke Bali pada tahun 2020 saya memutuskan untuk membuat situs perjalanan ini. Sambil menjalani kehidupan sehari-hari di Indonesia, saya mulai membagikan tips perjalanan, itinerary, dan pengalaman pribadi untuk membantu wisatawan lain mempersiapkan perjalanan mereka dengan lebih baik.
Panduan pertama saya didedikasikan untuk Nusa Penida, sebuah pulau yang pertama kali saya kunjungi pada tahun 2015 dan langsung memikat saya dengan lanskap spektakuler serta suasananya yang masih alami. Seiring waktu, proyek awal ini berkembang menjadi situs perjalanan yang lebih luas, mencakup banyak destinasi yang saya kunjungi sendiri di berbagai belahan dunia.
Sejak tahun 2022, perjalanan saya semakin banyak dilakukan untuk kesenangan pribadi dan berpusat pada sebuah passion yang kini menjadi bagian penting dalam hidup saya: scuba diving. Bali, Nusa Penida, Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, dan banyak destinasi lain di Asia maupun Eropa menjadi kesempatan untuk menemukan budaya baru, pemandangan luar biasa, dan dunia bawah laut yang menakjubkan.
Tujuan saya dengan situs ini sederhana: membantu wisatawan menikmati perjalanan mereka secara maksimal, menghindari kesalahan umum, dan menemukan tempat-tempat autentik di luar konten generik yang sering berulang di internet.
Latar belakang profesional saya: dirgantara dan bisnis internasional
Sebelum membuat situs perjalanan ini, saya bekerja lebih dari 30 tahun di bidang dirgantara, pertahanan, dan bisnis internasional. Saya lulusan École polytechnique dan ISAE-SUPAERO serta pernah memegang berbagai posisi internasional di perusahaan-perusahaan besar dirgantara Prancis.
Karier saya membawa saya ke Eropa, Asia, Timur Tengah, Afrika, Amerika, dan Australia untuk proyek internasional, negosiasi, dan pameran dirgantara. Pengalaman tersebut memungkinkan saya mengunjungi lebih dari 60 negara selama bertahun-tahun.
Sebagian besar perjalanan itu lebih berfokus pada pekerjaan daripada pariwisata. Namun kehidupan profesional internasional ini memberi saya rasa ingin tahu yang mendalam terhadap budaya lokal, perjalanan, dan pengalaman nyata di lapangan.
Sejak pindah ke Bali pada tahun 2020, saya akhirnya memiliki waktu untuk menjelajahi destinasi dengan cara yang lebih lambat dan mendalam. Pendekatan inilah yang kini membentuk seluruh panduan perjalanan yang saya publikasikan di situs-situs saya.

Negara tempat saya pernah tinggal
Paris, Toulouse, dan masa hidup saya di Prancis
Walaupun saya banyak bepergian untuk pekerjaan, saya selalu membedakan antara sekadar mengunjungi suatu negara selama beberapa hari dan benar-benar tinggal di sana selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Seiring waktu, hidup saya terbagi di beberapa kota dan negara, yang masing-masing mewakili tahap berbeda dalam perjalanan hidup saya.
Saya lahir di Paris dan tumbuh besar di arrondissement ke-6, tempat saya tinggal hingga usia 18 tahun. Setelah menjalani wajib militer di Nîmes, saya belajar selama dua tahun di Palaiseau di École polytechnique, lalu melanjutkan dua tahun lagi di Toulouse di ISAE-SUPAERO.
Karier profesional saya kemudian membawa saya tinggal di berbagai kota dan wilayah di Prancis, termasuk Vernon di Normandia, Cannes, dan Toulouse.
Lisbon dan Yunani
Seiring berjalannya waktu, hidup saya menjadi semakin internasional. Selama sekitar dua tahun, saya tinggal paruh waktu di Lisbon, kota yang sangat saya sukai karena atmosfer, cahaya, dan gaya hidupnya yang santai.
Yunani juga memiliki tempat penting dalam hidup saya, terutama sejak saya membangun rumah di Corfu, tempat saya menghabiskan banyak waktu selama bertahun-tahun, jauh sebelum pindah ke Indonesia.
Bali dan Indonesia sejak 2020
Saya pertama kali menemukan Nusa Penida pada tahun 2015, ketika pulau ini masih relatif belum dikenal wisatawan internasional. Investasi pertama saya di sana dimulai pada tahun 2017 sebelum akhirnya saya pindah secara permanen ke Bali pada Agustus 2020, di awal krisis Covid, untuk mengawasi proyek-proyek saya saat pembukaan hotel beberapa minggu kemudian.
Hingga hari ini saya masih tinggal di Bali sambil kembali ke Paris beberapa kali setiap tahun. Perjalanan rutin ke Eropa ini memungkinkan saya terus menemukan kembali Prancis dan destinasi Eropa lainnya dengan perspektif yang lebih santai dan berpengalaman.
Negara-negara yang telah saya kunjungi
Saya telah mengunjungi lebih dari 60 negara di Eropa, Asia, Timur Tengah, Afrika, Amerika, dan Oseania, dengan pengalaman yang sangat luas di Asia dan Indonesia, tempat saya tinggal sejak tahun 2020.
Perjalanan-perjalanan tersebut memiliki bentuk yang sangat beragam sepanjang hidup saya: perjalanan bisnis, negosiasi internasional, pameran dirgantara, tinggal jangka panjang, road trip, hingga perjalanan pribadi. Beberapa negara hanya saya kunjungi sekali, sementara yang lain menjadi bagian penting dalam hidup saya selama puluhan tahun.
Saya juga membuat perbedaan yang jelas antara sekadar “mengunjungi” sebuah negara selama beberapa hari dan benar-benar mengenalnya melalui kunjungan berulang, pertemuan lokal, dan pengalaman yang lebih mendalam.
Perjalanan pertama saya ke luar negeri
Perjalanan pertama saya ke luar negeri terjadi ketika saya berusia 9 tahun. Saya bepergian sendirian dengan pesawat untuk tinggal bersama keluarga Yunani yang belum pernah saya temui sebelumnya di Korinth.
Itu juga merupakan pengalaman pertama saya naik pesawat. Saat makanan dibagikan, pesawat tiba-tiba mengalami turbulensi hebat dan semua nampan beterbangan di dalam kabin. Karena belum pernah terbang sebelumnya, saya tidak langsung menyadari bahwa situasi itu sebenarnya cukup tidak biasa.
Melihat ke belakang, saya kadang bertanya-tanya apakah pengalaman itu menjelaskan kecintaan saya pada Yunani… dan mungkin juga karier saya di bidang dirgantara.
Destinasi yang paling sering saya kunjungi
Selama karier internasional saya, beberapa kota terasa hampir seperti rumah sendiri karena saya terus kembali ke sana berkali-kali. Destinasi yang mungkin paling sering saya kunjungi adalah Beijing, New Delhi, dan Rio de Janeiro, dengan lebih dari dua puluh perjalanan ke masing-masing kota, terutama untuk negosiasi bisnis dan proyek internasional besar.
Tentu saja Yunani dan Bali juga termasuk dalam daftar tersebut, dengan puluhan kunjungan selama bertahun-tahun sebelum saya akhirnya menetap secara permanen di Indonesia.
Perjalanan terpendek saya
Perjalanan terpendek — dan mungkin paling absurd — dalam hidup saya adalah perjalanan pulang-pergi Paris–Hong Kong pada tanggal 23 Desember hanya untuk makan malam dengan klien di Hong Kong Club yang legendaris.
Dua malam berturut-turut di pesawat, tanpa perlu hotel, lalu langsung kembali ke Prancis setelah pertemuan selesai.
Beberapa negosiasi internasional memang bisa menjadi sangat surreal (dan pada akhirnya saya bahkan tidak menandatangani kontraknya…).
Perjalanan terpanjang saya
Perjalanan terpanjang saya tetap merupakan perjalanan keliling dunia hampir dua bulan dengan rute berikut:
Paris → Los Angeles → Tahiti → Selandia Baru → Australia → Bali → Paris.
Dalam perjalanan itu saya melintasi Garis Tanggal Internasional dan “kehilangan” satu hari penuh. Sejak saat itu, saya sering berpikir suatu hari nanti harus melakukan perjalanan yang sama ke arah sebaliknya… hanya untuk mendapatkan kembali hari yang hilang tersebut.
Beberapa wilayah dunia yang saya kenal cukup baik
Asia dan Timur Tengah
Arab Saudi, Kamboja, Tiongkok, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Hong Kong, India, Indonesia, Israel, Jepang, Yordania, Kazakhstan, Kuwait, Lebanon, Malaysia, Oman, Filipina, Qatar, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Turki, dan Vietnam.
Saat ini Asia mungkin merupakan wilayah dunia yang paling saya kenal, baik melalui karier internasional saya sebelumnya maupun kehidupan saya sekarang di Indonesia.
Eropa
Jerman, Austria, Belgia, Kroasia, Denmark, Spanyol, Prancis, Yunani, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal, Inggris, Rumania, Rusia, dan Swiss.
Eropa tetap menjadi bagian penting dalam hidup saya berkat perjalanan rutin saya kembali ke Paris serta banyaknya waktu yang saya habiskan di Yunani dan Portugal.
Amerika
Argentina, Brasil, Chili, Kolombia, Kuba, Amerika Serikat, Guatemala, Meksiko, Saint Vincent dan Grenadines, Trinidad dan Tobago, Uruguay, dan Venezuela.
Afrika
Afrika Selatan, Mesir, Libya, Kenya, Tanzania, Maroko, dan Tunisia.
Oseania
Australia, Polinesia Prancis, dan Selandia Baru.
Cara saya bepergian yang berubah seiring waktu
Selama bertahun-tahun, perjalanan saya sebagian besar didorong oleh tuntutan profesional: rapat, negosiasi, pameran internasional, dan penerbangan tanpa akhir melintasi berbagai zona waktu.
Sejak pindah ke Bali, cara saya bepergian berubah secara mendalam. Kini saya lebih menyukai tinggal lebih lama, penemuan lokal, pertemuan yang bermakna, dan pendekatan perjalanan yang jauh lebih lambat dan mendalam.
Peta interaktif ini memberikan gambaran tentang negara-negara utama yang saya kunjungi sepanjang karier profesional dan perjalanan pribadi saya.

Passion saya terhadap scuba diving
Pengalaman pertama saya dengan diving
Saya mulai mengenal scuba diving pada tahun 1986 ketika menyelesaikan sertifikasi diving pertama saya di Martinique. Pada saat itu, diving hanyalah aktivitas sesekali yang saya lakukan saat liburan dan perjalanan ke berbagai belahan dunia.
Beberapa tahun kemudian, di Seychelles, saya benar-benar memulai perjalanan PADI saya dengan memperoleh sertifikasi Open Water Diver pada Mei 2011 dan Advanced Open Water Diver pada Maret 2012. Selama beberapa tahun, saya tetap menjadi penyelam rekreasional, menjelajahi dunia bawah laut di Mediterania, Asia, dan Samudra Hindia tanpa membayangkan bahwa diving suatu hari akan menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup saya.
Perjalanan PADI saya dan petualangan di Nusa Penida
Segalanya berubah pada tahun 2017 dengan dibukanya pusat diving saya sendiri, Warnakali — yang kini dikenal sebagai Dune Penida — di Nusa Penida. Tinggal dekat dengan laut setiap hari memungkinkan saya menyelam jauh lebih sering dan mengembangkan kemampuan saya di salah satu lingkungan laut paling luar biasa di Indonesia.
Saya kemudian memperoleh sertifikasi Rescue Diver beserta berbagai spesialisasi PADI, termasuk Adaptive Support Diver, Sidemount, Enriched Air Diver (Nitrox), Deep Diver, Peak Performance Buoyancy, Emergency Oxygen Provider, dan Drift Diver, sebelum mencapai level PADI Master Scuba Diver pada tahun 2018.
Saya sengaja memilih untuk tidak menjadi Divemaster atau instruktur. Tujuan saya selalu menjaga diving sebagai passion yang independen, berfokus pada eksplorasi, pertemuan di bawah laut, dan penemuan spot diving baru di seluruh dunia.

Destinasi diving favorit saya
Selama bertahun-tahun, saya memiliki kesempatan untuk menyelam di berbagai belahan dunia, dengan preferensi khusus pada Indonesia, yang kini menjadi destinasi diving favorit saya berkat biodiversitas lautnya yang luar biasa. Di antara destinasi diving di Indonesia yang paling mengesankan bagi saya adalah Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, dan tentu saja Nusa Penida, tempat saya melakukan sebagian besar penyelaman saya.
Di luar Indonesia, beberapa kenangan bawah laut terbaik saya juga berasal dari Laut Merah, Maladewa, dan Polinesia Prancis — destinasi yang terkenal di dunia karena keindahan terumbu karang, visibilitas luar biasa, dan kekayaan kehidupan lautnya.
Lebih dari 700 penyelaman di seluruh dunia
Saat ini saya telah mencatat lebih dari 700 penyelaman di berbagai belahan dunia, termasuk penyelaman rekreasi, penyelaman drift, penyelaman eksplorasi, dan pertemuan dengan hewan laut berukuran besar.

Kenangan terbaik dan terburuk saya saat diving
Kenangan diving terburuk saya adalah sebuah penyelaman di Ibiza setelah semalaman berpesta. Saat itu hujan, air laut dingin, jarak pandang sangat buruk, dan saya akhirnya kehilangan grup diving saya di bawah air — mungkin kombinasi sempurna untuk sebuah penyelaman yang lebih baik dilupakan.
Sebaliknya, kenangan bawah laut terbaik saya tetap pertemuan luar biasa dengan empat belas mola mola di Gamat Bay, Nusa Penida. Melihat begitu banyak ocean sunfish dalam satu kali penyelaman adalah pengalaman yang sangat langka dan tetap menjadi salah satu momen paling magis yang pernah saya alami di bawah air.
Mengapa saya membuat My Best Places to Visit
Ketika pertama kali menemukan Nusa Penida pada tahun 2015, saya mulai menulis panduan perjalanan tentang pulau yang saat itu masih relatif belum dikenal wisatawan internasional. Setelah tinggal di sana dan mengenal kehidupan sehari-harinya, saya cepat menyadari bahwa para wisatawan mencari informasi yang detail, terpercaya, dan berdasarkan pengalaman nyata.
Banyak wisatawan mencari tips praktis, itinerary realistis, informasi terbaru, dan pengalaman autentik, jauh dari konten generik yang sering disalin dari satu situs ke situs lainnya. Kesuksesan panduan pertama ini mendorong saya untuk secara bertahap memperluas proyek ke destinasi lain yang rutin saya kunjungi.
Dari situlah My Best Places to Visit lahir, dengan satu ide sederhana: membagikan panduan perjalanan berdasarkan pengalaman pribadi nyata, observasi langsung di lapangan, dan tips yang benar-benar berguna bagi wisatawan.
Tujuan saya bukan menerbitkan sebanyak mungkin artikel, tetapi menciptakan konten yang mendalam, jujur, dan benar-benar bermanfaat. Saya fokus pada destinasi yang benar-benar saya kenal, terkadang setelah beberapa kali perjalanan atau bertahun-tahun tinggal di sana, agar dapat menawarkan perspektif yang lebih akurat dan bernuansa dibandingkan dengan panduan wisata generik tradisional.
Seiring waktu, proyek ini menjadi jauh lebih dari sekadar blog perjalanan. Kini, ini adalah cara saya berbagi passion terhadap perjalanan, budaya lokal, dan pengalaman nyata di berbagai belahan dunia.
Cara saya menulis panduan perjalanan: metode dan etika editorial
Panduan perjalanan berdasarkan pengalaman nyata
Semua panduan perjalanan yang dipublikasikan di My Best Places to Visit didasarkan pada kunjungan dan pengalaman pribadi nyata. Saya hanya menulis tentang destinasi yang benar-benar pernah saya kunjungi sendiri.
Informasi praktis, rekomendasi, itinerary, dan tips perjalanan yang dipublikasikan di situs berasal langsung dari pengalaman pribadi saya, dilengkapi bila diperlukan dengan verifikasi di lapangan atau sumber resmi.
Foto yang diambil selama perjalanan saya
Sebagian besar foto yang dipublikasikan di situs diambil sendiri oleh saya selama perjalanan. Dalam beberapa kasus, saya juga menggunakan foto dari teman yang ikut dalam perjalanan yang sama atau menginap bersama saya di destinasi terkait.
Verifikasi dan pembaruan informasi
Saya juga sangat memperhatikan verifikasi informasi praktis sebelum dipublikasikan dan rutin memperbaruinya, terutama terkait:
- visa dan persyaratan masuk,
- transportasi,
- akses ke pulau atau wilayah terpencil,
- jam operasional,
- atau perubahan penting yang dapat memengaruhi wisatawan.
Proses pembaruan berkelanjutan ini sangat penting terutama di destinasi seperti Indonesia, di mana regulasi, rute kapal cepat, atau kondisi akses dapat berubah dengan cepat.
Pendekatan independen dan transparan
Saat ini, My Best Places to Visit belum menghasilkan pendapatan, dan seluruh perjalanan saya dibiayai secara pribadi. Saya tidak mengikuti press trip maupun menerima kerja sama sponsor atau layanan gratis dari kantor pariwisata, hotel, atau perusahaan transportasi.
Affiliate link dan monetisasi
Di masa depan, saya mungkin menggunakan beberapa affiliate link — misalnya melalui platform seperti Booking.com — untuk membantu menutupi sebagian biaya hosting, pemeliharaan, dan pembaruan situs. Namun monetisasi apa pun di masa depan tidak akan pernah memengaruhi konten editorial, rekomendasi, atau opini yang dipublikasikan di situs ini.
Komitmen editorial saya
Tujuan utama saya tetap mempertahankan pendekatan yang independen, jujur, dan transparan untuk menyediakan panduan perjalanan yang terpercaya dan benar-benar berguna bagi wisatawan.
Spesialisasi editorial
Seiring waktu, beberapa destinasi dan tema perjalanan secara alami menjadi fokus utama My Best Places to Visit.
Indonesia, Bali, dan Nusa Penida
Indonesia kini menempati posisi sentral dalam konten saya, khususnya Bali dan Nusa Penida, tempat saya tinggal selama beberapa tahun. Pengalaman lokal ini memungkinkan saya membuat panduan yang sangat detail tentang transportasi, akomodasi, itinerary, pantai, scuba diving, dan organisasi praktis perjalanan di Indonesia.
Paris dan Prancis
Prancis — terutama Paris, tempat saya masih memiliki apartemen dan kembali beberapa kali setiap tahun — juga menjadi tema penting di situs ini. Karena saya menghabiskan sebagian besar hidup di Paris sebelum pindah ke Indonesia, saya rutin membagikan panduan tentang lingkungan Paris, alamat lokal, situs bersejarah, dan cara menikmati ibu kota Prancis dengan lebih autentik.
Yunani dan kepulauan Yunani
Saya juga mendedikasikan bagian penting situs ini untuk Yunani, negara yang telah saya kunjungi secara rutin selama bertahun-tahun dan tempat saya membangun rumah di Corfu. Panduan perjalanan saya tentang Yunani sering kali memiliki pendekatan yang lebih personal dan kurang turistik, dengan perhatian khusus pada pulau-pulau, pantai, dan pengalaman lokal.

Scuba diving
Scuba diving adalah salah satu tema utama lain di situs ini. Dengan lebih dari 700 penyelaman di berbagai belahan dunia dan beberapa sertifikasi PADI, saya secara rutin mempublikasikan konten detail tentang destinasi diving terbaik di Asia Tenggara, liveaboard, biodiversitas laut, dan spot diving ikonik di kawasan Indo-Pasifik, berdasarkan pengalaman bawah laut saya sendiri di Indonesia, Maladewa, dan berbagai destinasi lainnya.
Panduan perjalanan detail berdasarkan pengalaman nyata
Saya umumnya lebih memilih membuat panduan perjalanan yang panjang dan detail untuk menjawab pertanyaan praktis yang mungkin dimiliki wisatawan sebelum dan selama perjalanan mereka. Tujuan saya adalah menciptakan konten yang lengkap, praktis, dan benar-benar berguna berdasarkan pengalaman langsung di lapangan, bukan sekadar kumpulan informasi yang sudah tersedia di tempat lain.
Situs multibahasa yang terus berkembang
Saat ini situs tersedia dalam beberapa bahasa agar kontennya dapat diakses oleh sebanyak mungkin wisatawan. Walaupun saya secara pribadi sangat memperhatikan kualitas terjemahan dan adaptasi budaya, beberapa kalimat terkadang masih terasa kurang sempurna dalam bahasa tertentu — karena tentu saja saya tidak berbicara sepuluh bahasa dengan lancar. Namun tujuan saya tetap sama: menyediakan konten perjalanan yang mudah dipahami, berguna, dan terus berkembang dari waktu ke waktu.
Ikuti perjalanan saya dan hubungi saya
Anda dapat mengikuti perjalanan, panduan baru, dan berbagai penemuan saya di seluruh dunia melalui akun media sosial yang terhubung dengan My Best Places to Visit.
Anda dapat menemukan saya di:
Anda juga dapat menghubungi saya langsung melalui halaman kontak situs untuk pertanyaan seputar destinasi, perencanaan perjalanan, scuba diving, atau pengalaman perjalanan pribadi.
Saya berusaha membalas pesan dari para wisatawan sebisa mungkin, meskipun waktu respons terkadang dapat bervariasi tergantung pada perjalanan dan jadwal saya saat itu.
